Rabu, 16 Februari 2011

1. Agama bagi Manusia


:    
A.    PENGERTIAN AGAMA
      
1.       Syeh M. Abdullah Badran, seorang Guru Besar Al-Azhar, dalam bukunya Al-Madkhal ila Al-Adyan, menjelaskan arti agama diawali dengan pendekatan kebahasaan, yaitu Diin yang biasa diterjemahkan “agama” menggambarkan hubungan  antara dua pihak di mana yang pertama Khaliq mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada yang kedua makhluq. Dengan demikian  agama adalah “ hubungan antara makhluq dan Khaliqnya”.
2.       Syeh Mahmud Syaltut menyatakan bahwa “agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia”.


B.    PERLUNYA MANUSIA BERAGAMA

      1.   Dr. M. Quraish Shihab. Setidaknya ada dua alasan yaitu:
Pertama. Manusia memiliki naluri ingin tahu. Dengan menggunakan pancaindera, akal dan jiwanya, sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah. Namun demikian, keterbatasan pancaindera dan akal menjadikan sekian banyak tanda tanya  yang muncul dalam benaknya tidak terjawab. Hal ini dapat mengganggu perasaan dan jiwanya , dan semakin mendesak pertanyaan tersebut semakin gelisah bila tidak terjawab. Hal ini antara lain karena manusia memiliki  naluri ingin tahu. Kalau demikian manusia membutuhkan informasi tentang apa yang tidak diketahuinya itu, khususnya dalam hal-hal yang sangat mengganggu ketenangan jiwanya atau syarat bagi kebahagiannya. Disinilah informasi Tuhan itu datang (Agama itu dibutuhkan).
Kedua. Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendirian. Banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri, karena berbagai keterbatasan waktu, pengetahuan dan kemampuan yang lainnya. Hidup manusia bagaikan lalu lintas, masing-masing ingin berjalan dengan selamat sekaligus cepat sampai tujuan. Namun, karena kepentingan mereka berbeda-beda, maka apabila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan, pasti akan terjadi benturan dan tabrakan. Dengan demikian manusia membutuhkan peraturan demi lancarnya lalu lintas kehidupan. Di sinilah Agama sangat diperlukan.

Siapakah yang mengatur lalu lintas kehidupan itu ? manusiakah ?
Paling tidak dalam persoalan pengaturan di atas, manusia mempunyai dua kelemahan, yaitu:
Pertama, keterbatasan pengetahuan, dan
Keuda, sifat egoisme, ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri.
Apa akibatnya bila manusia, yang mempunyai dua kelemahan itu, mengatur lalu lintas kehidupan ?

Dengan demikian yang berhak mengatur lalu lintas kehidupan adalah:
-          Yang paling mengetahui kehidupan, dan sekaligus
-          Yang tidak mempunyai kepentingan sedikitpun.
             Dialah Allah swt yang menetapkan peraturan, baik secara umum, berupa niali nilai, maupun secara rinci. Peraturan itulah yang kemudian dinamai agama.

2.      A. Azhar Basyir . Dua alasan mengapa manusia membutuhkan agama:
       Pertama, karena manusia ingin bertahan diri untuk  tetap menjadi makhluk Tuhan yang mulia. Untuk itu manusia harus beriman dan beramal shaleh, yang merupakan bagian utama bagi agama Islam. Dasar jawaban ini adalah mengacu pada QS, At-Tin, (95): 4-6 “Sesungguhnya telah Kami jadikan manusia itu dalam bentuk/konstrksi yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia menjadi serendah-rendah makhluk yang rendah. Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh, mereka mendapat pahala yang tidak berkesudahan”.
             Kedua, untuk membimbing akal agar mampu berpihak pada panggilan hati nurani. Di dalam diri manusia terdapat kekuatan yang senantiasa mengajak hidup baik, yaitu yang sering dinamakan “hati nurani”. Tetapi di samping itu terdapat juga kekuatan yang menarik-narik ke arah keburukan, kekuatan ini dinamakan “hawa nafsu”.Akal berfungsi pula antara hal-hal yang merupakan panggilan hatinurani dan yang merupakan bisikan hawa nafsu. Akal seharusnya senantiasa berpihak kepada panggilan hati nurani. Tetapi tidak selalu demikian halnya. Amat sering terjadi bahwa dalam menghadapi desakan-desakan hawanafsu itu, akal tidak berdaya. Hawa nafsu juga yang menang. Hati nurani terdesak. Bahkan pertimbangan akal sering tertarik untuk membenarkan ajakan-ajakan hawa nafsu.
             Di sinilah diperlukan adanya hal yang dapat mengatasi itu semua. Hal itu harus datang dari luar manusia, dan berupa ketentuan-ketentuan  yang pasti untuk menjadi pedoman hidup manusia. Tidak lain hal itu adalah agama yang datangnya dari Tuhan, bukan buatan manusia sendiri.


C.        INFORMASI KEAGAMAAN DITERIMA MANUSIA

Dalam rangka mendapatkan pengetahuan, manusia adakalanya berusaha dengan menggunakan potensi yang dianugerahkan Allah swt kepadanya. Tetapi ada pula manusia yang memperoleh informasi tanpa ada upaya darinya. Memperhatikan hal di atas, ilmuwan mengakui bahwa ada dua faktor setiap aksi pengetahuan, yaitu subyek dan obyek. Sehubungan proses pemahaman ada dua kemungkinan  proses:

    1. Subyek berusaha mengetahui obyek dengan potensi  (alat-alat) yang dimilikinya, dan
    2. Obyek yang memperlihatkan dirinya sendiri kepada subyek.

Jalur pertama adalah jalur ilmu pengetahuan dan filsafat; sedangkan jalur kedua adalah jalur agama yang dikenal dengan wahyu. Wahyu diterima  oleh manusia tertentu (Nabi), sedangkan manusia lain menerima dan membenarkannya dari Nabi, begitu manusia selanjutnya..

Memang ada saja manusia  yang meragukan kebenaran informasi itu. Jika itu terjadi, Allah memberikan bukti kebenaran. Mereka ditantang untuk membuat atau melakukan semacam apa yang dilakukan oleh para nabi. Bukti tersebut dalam bahasa agama  dinamai mu’jizat.


D. BERAGAMA SECARA  DEWASA

Banyak orang beragama karena hasil keturunan atau karena pengaruh lingkungan. Orang memeluk Islam misalnya, karena dilahirkan oleh orang tua yang beragama Islam dan dibsarkanaa dalam lingkungan  yang beragama Islam pula. Keadaan  demikian, biasanya, ia tidak pernah bertanya tentang keislmannya. Berbeda dengan mereka yang hidup di tengah-tengah komunitas bukan muslim. Padanya sering timbul pertanyaan tentang “sampai  dimana kebenaran agama yang dipeluknya dibanding dengan agama yang dipeluk orang lain”.  Baginya untuk meyakinkan agama yang dipeluknya diperlukan argumen-tasi yang meyakinkan.
            Era informasi, orang bergantung pada informasi. Bermacam budaya dunia merubah kita, agama, norma, budaya banyak bergeser. QS, al-Isra’, 17: 36, yang artinya;“Janganlah kamu mengikuti suatu pendirian tanpa pengetahuan yang meyakinkan, sebab pendengaran, penglihatan dan hati itu masing-masing akan dimintai pertanggungan jawab”. Orang akan tangguh  menghadapi tantangan dalam beragama bila ia beragama secara dewasa. Orang yang beragama dewasa ia dalam memilih agama dan beragama didasarkan  atas kesadaran dan pemahaman  bukan sekedar diperoleh  dari turun temurun dan pengaruh lingkungan belaka. Untuk itu seseorang dituntut:
1.    Memiliki pengetahuan agama yang memadahi dan
2.    Memiliki pengalaman mengamalkan agama yang cukup.
Dengan demikian upaya mengkaji ajaran  dan belajar dari pengalaman mengamalkan Islam yang dilakuan secara terus menerus dan berkesinambungan menjadi sangat diperlukan.

E. SALAH PAHAM TERHADAP ISLAM

Menurut Muhammad Qutb: adalah karena:
1.       Salah memahami ruang lingkup agama Islam.
2.       Salah menggambarkan bagian-bagian atau segmen-segmen kerangka keselu-ruhan ajaran agama Islam.
3.       Salah mempergunakan metode pengkajian Islam.

Dalam Buku Teks PAI Pada PT Umum :
1.    Salah paham terhadap ajaran Islam: Islam hanya ritual.
2.    Salah paham tentang Islam dan ilmu pengetahuan: Agama statis  sedangkan ilmu pengetahuan dinamis.



Untuk menghindari salah paham perlu diperhatikan:
1.    Pelajari  dari sumbernya asli.
2.    Tidak dipelajari secara parsial tetapi integral.
3.    Pelajari karya orang yang paham Islam, ahlinya.
4.    Hubungkan dengan berbagai persoalan secara proporsional.
5.    Pahami Islam dengan bantuan ilmu-ilmu pengetahuan.
6.    Tidak menyamakan Islam dengan ummat Islam.
7.    Pelajarilah dengan metode yang selaras dengan Islam.


   F.  AGAMA YANG BENAR MENURUT KETENTUAN  ALLAH

Ada beberapa ketentuan Allah dalam memilih agama:

1.     Agama yang datang dari Allah dan dibawa oleh para Rasul Nya.

2.     Agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah agama penutup yang telah disempurnakan (QS, Al-Maidah, 5: 3).

3.     Beragama adalah suatu anugerah dari Allah. “Barang siapa dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk, dilapangkan dadanya untuk menerima Agama Islam (QS, Al-An’am, 6: 125).

4.     Orang yang menganut agama selain Islam, sama sekali tidak akan diterima Allah (QS, Ali Imran, 3: 83).

5.     Agama yang diajarkan Allah kepada umat manusia hanya Islam (QS, Ali Imran, 3: 19).

6.     Agama yang mengajarkan tauhid dan melarang  berbuat syirik. Inilah  yang membedakan dengan agama  lainnya  (QS, Al-Ambiya’, 21: 25 dan QS, Ali Imran, 2: 64)





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar